Sulitnya Perkembangan Koperasi Di Indonesia

Tercatat sebanyak 200.808 koperasi yang berada di seluruh di Indonesia pada 30 Juni 2013. Banyak bukan ? tapi apakah semuanya aktif ? Tidak. Hanya 142.387 unit koperasi yang aktif dari 33 Provinsi di Indonesia. Dan 58.421 unit koperasi yang tidak aktif. Bayangkan angka sebanyak itu adalah unit koperasi yang tidak aktif . Koperasi yang dapat menjadi penghasilan para masyarakat di daerah tersebut, malah tidak aktif. Fungsi dan peran menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa koperasi memiliki fungsi dan peranan antara lain yaitu :

1.      Mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat

2.      Berupaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia

3.      Memperkokoh perekonomian rakyat

4.      Mengembangkan perekonomian nasional

5.      Serta mengembangkan kreativitas dan jiwa berorganisasi bagi pelajar bangsa 

 

Peran dan fungsi yang bagus untuk bangsa Indonesia, bagi generasi kita untuk mecapai kemakmuran Indonesia. Memperkecil kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Peran dan fungsi tersebut akan sangat berperan dan berfungsi apabila dilaksanakan dengan baik oleh si pengelola koperasi tersebut. Jadi alasan yang pertama untuk judul diatas adalah, rendah pemahaman mengenai koperasi oleh para pengelola. Jadi, pengelola akan sangat dibutuhkan oleh koperasi karena dia yang memantau, memberi kebijakan dan mengadakan kegiatan di koperasi tersebut. Pemahaman dan keaktifan pengelola akan sangat membantu para anggota dan karyawan. Terlebih pengelola ini mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dengan para karyawan dan anggotanya. Dengan pemahaman, keaktifan dan komununkasi akan mengembangkan koperasi yang ada. Serta rutin mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) oleh koperasi aktif. Karena di sana akan ada evaluasi selama setahun koperasi. Jadi dengan di adakan RAT secara rutin akan menambal masalah-masalah yang ada pada koperasi. Bukan hanya dianggedakan tapi dilaksanakan.

 

Selanjutnya adalah SDM (Sumber Daya Manusia) koperasi yang memiliki pendidikan yang rendah dengan keahlian teknis, kompetensi, kewirausahaan dan manajemen yang seadanya. Jika SDM mempenyai keahlian teknis yang baik, mampu berkompetensi dan mempunyai manajemen yang baik, pasti koperasi akan mudah berkembang. Karena wirausaha dituntut kreatif dan inovatif untuk bersaing dengan pihak lain. Yang tentunya mempunyai SDM yang canggih-canggih dalam mengahasilkan suatu produk dan paham akan koperasi. 

 

Lalu terbatasnya akses koperasi, akses kepada sumberdaya produktif terutama terhadap bahan baku, permodalan, teknologi, sarana pemasaran serta informasi pasar. Akses sangat berguna untuk kelangsungan kegiatan koperasi. Untuk akses seperti bahan baku teknologi dan sarana yang memadai pasti membutuhkan dana untuk kegiatan tersebut. Kesulitan dana menjadi pokok permasalahan yang terjadi. Jika sudah tidak tersentuh oleh lembaga pembiyaan seperti meminjam pada Bank karena banyak syarat yang belum terpenuhi. Maka jalan satu-satunya adalah melalui rentenir. Bukan mengembangkan koperasi malah semakin menumpuk utang pada rentenir. Maka diperlukan adanya pengembangan dan peminjaman kredit dengan bunga yang kecil bagi koperasi. Setelah modal sudah didapat maka akan melaju ke bahan baku yang berkualitas. Nah , disini diperlukan adanya akses jaringan yang lebih dari satu untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas dan dengan harga yang miring. Kenapa ? karena kita bisa mendapatka untung untuk pengembalian peminjaman. Akses jaringan akan terjadi jika kita mempunyai informasi pasar. Terlebih jika kita sudah menjalin kerjasama yang baik.

 

Akses teknologi yang sederhana, masalah yang satu ini dapat memperhambat kinerja koperasi. Dengan adanya teknologi yang tinggi maka akan menambah nilai produk serta menunjang penghasilan para anggota dan karyawan. Dan dengan pemanfaatan akses jaringan dan informasi pasar yang baik maka akan membantu koperasi dalam usahanya. Teknologi yang tinggi akan mempercepat kegiatan koperasi dan memproduksi lebih banyak sehingga dapat mendukung penghasilan koperasi.

 

Konflik kepentingan antara pemilik organisasi (yang seharusnya kepentingan pemiliklah yang mendominasi) dengan kepentingan mereka yang mengontrol atau mengelola organisasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan koperasi. Selain itu permodalan cukup mempengaruhi juga perkembangan suatu koperasi itu berjalan dengan baik.

Kenapa adanya Konflik ? Konflik tercipta saat ada pertentangan antar individu/kelompok, suatu koperasi tentu harus dipimpin oleh seseorang yang mampu membuat koperasi itu berkembang dan juga mampu untuk membuat masyarakat sadar berkoperasi serta dapat menjalankan dan berorganisasi dengan baik dalam koperasi tersebut. Dari konflik tersebut maka manajemen suatu koperasi bisa dikatakn buruk, baik dalam kepengurusan maupun dalam penanganan masalah itu sendiri.

Dalam segi permodalan, suatu koperasi tentu harus memiliki modal yang cukup untuk membangun koperasi tersebut serta menjalankan koperasi dengan manajemen yang tepat pula.  Suatu Koperasi di Indonesia yang kesulitan berkembang bias saja karena permodalannya lemah, dengan modal yang minim maka akan sulit untuk berproduksi sehingga hasil yang didapat juga akan minim pula.

Dalam hal meminjam uang di Bank, tingginya suku bunga bank membuat koperasi sulit berkembang. Dengan suku bunga yang tinggi, margin keuntungan menjadi sangat tipis, bahkan defisit. Koperasi sering kali kesulitan saat hendak menambah modal dari bank. Pasalnya, suku bunga yang ditawarkan perbankan sangat tinggi, antara 10-20% per tahun.

Selain itu Koperasi sulit berkembang diantara lain disebabkan oleh :

      => Kurangnya Promosi dan Sosialisasi

Promosi diperlukan agar masyarakat tahu tentang koperasi tersebut. Pemerintah dengan gencarnya melalui media massa mensosialisasikan Koperasi kepada masyarakat namun jika sosialisasi hanya dilakukan dengan media massa mungkin hanya akan “numpang lewat” saja. Memang benar dengan mensosialisasikan melalui media massa akan lebih efektif untuk masyarakat mengetahuinya, namun dengan sosialisasi secara langsung untuk terjun kelapangan akan lebih efektif karena penyampaian yang lebih mudah dipahami. Dalam masalah promosi barang yang dijual di suatu koperasi juga mengalami kendala seperti kurangnya promo yang ditawarkan dan kurang kreatifnya koperasi untuk mempromosikan sehingga minat masyarakat juga berkurang untuk dapat ikut serta dalam koperasi.

    =>  Kesadaran Masyarakat Untuk Berkoperasi Masih Lemah

Masyarakat masih sulit untuk sadar berkoperasi, terutama anak-anak muda. Kesadaran yang masih lemah tersebut bias disebabkan kurang menariknya koperasi di Indonesia untuk dijadikan sebagai suatu usaha bersama. Selain itu para pemuda-pemudi lebih sukamenghabiskan waktu di luar daripada melakukan kegiatan didalam koperasi karena bagi pemuda terkesan “Kuno”.

    =>  Harga Barang di Koperasi Lebih Mahal Dibandingkan Harga Pasar

Masyarakat jadi enggan untuk membeli barang dikoperasi karena harganya yang lebih mahal dibandingkan harga pasar. Bagi masyarakat Indonesia konsumen akan memilih untuk membeli suatu barang dengan harga yang murah dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik dibandingkan dengan koperasi. Dengan enggannya masyarakat untuk bertransaksi di koperasi sudah pasti laba yang dihasilkan oleh koperasi-pun sedikit bahkan merugi sehingga perkembangan koperasi berjalan lamban bahkan tidak berjalan sama sekali.

   => Sulitnya Anggota Untuk Keluar dari Koperasi

Seorang anggota koperasi maupun pemilik koperasi akan sulit untuk melepaskan koperasi tersebut, kenapa ? Karena sulitnya menciptakan regenerasi dalam koperasi. Dengan sulitnya regenerasi maka seseorang akan merasa jenuh saat terlalu dalam posisi yang ia tempati namun saat ingin melepaskan jabatannya sulit untuk mendapatkan pengganti yang cocok yang bias mengembangkan koperasi tersebut lebih lanjut.

    =>  Kurang Adanya Keterpaduan dan Konsistensi

Dengan kurang adanya keterpaduan dan Konsistensi antara program pengembangan koperasi dengan program pengembangan sub-sektor lain, maka program pengembangan sub-sektor koperasi seolah-olah berjalan sendiri, tanpa dukungan dan partisipasi dari program pengembangan sektor lainnya.

    =>  Kurang Dirasakan Peran dan Manfaat Koperasi Bagi Anggota dan Masyarakat

Peran dan Manfaat koperasi belum dapat dirasakan oleh anggotanya serta masyarakat karena Koperasi belum mampu meyakinkan anggota serta masyarakat untuk berkoperasi dan kurang baiknya manajemen serta kejelasan dalam hal keanggotaan koperasi.

Hal-hal tersebut merupakan factor yang mempengaruhi mengapa Koperasi sulit untuk berkembang, maka setiap koperasi dibutuhkan untuk mengelola koperasi tersebut dengan benar yang sesuai dengan fungsinya sebagai koperasi agar dapat berjalan dengan baik.

 sumber :

http://chanchanfia.blogspot.com/2013/09/alasan-koperasi-sulit-berkembang-di.html

http://dhiasitsme.wordpress.com/2011/10/28/sulitnya-koperasi-indonesia-untuk-berkembang/

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: